Purbaya Yudhi Sadewa Jelaskan Gaya Kelola Anggaran yang Dinilai Agresif
Bisnis Online Tanpa Modal — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi perbandingan gaya kepemimpinannya dengan mantan Menkeu Sri Mulyani Indrawati.
Sejak dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 8 September 2025, gaya Purbaya dalam mengelola fiskal kerap disebut lebih agresif, berbeda dengan Sri Mulyani yang dianggap cenderung berhati-hati.
Sejumlah pihak menilai pendekatan Purbaya mirip gaya menyerang dalam sepak bola, sedangkan Sri Mulyani lebih seperti bertahan. Namun, Purbaya mengaku tidak pernah mengaitkan kebijakan fiskal dengan analogi olahraga.
“Saya enggak tahu, yang saya tahu beginilah cara menjalankan fiscal policy yang baik. Saya enggak pernah main bola juga, enggak jago,” kata Purbaya di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (16/9).
Menurutnya, gaya pengelolaan anggaran yang ia terapkan sebenarnya biasa saja, hanya menerapkan prinsip fiskal yang wajar: anggaran harus disusun terukur dan digunakan sesuai rencana.
“Kalau enggak berani, enggak habisin, jangan didesain, jangan direncanakan, itu aja,” tegasnya.
Tarik Rp200 Triliun dari Bank Indonesia
Sejak awal masa jabatannya, Purbaya langsung membuat langkah besar. Ia menarik Rp200 triliun dari total Rp425 triliun dana pemerintah yang mengendap di Bank Indonesia (BI). Dana itu kemudian ditempatkan di lima bank milik negara untuk memperkuat likuiditas perbankan.
Menurut Purbaya, kebijakan ini bertujuan memutar roda perekonomian yang belakangan dinilai melambat.
“Sistem finansial kita agak kering, makanya ekonominya melambat, makanya dalam 1-2 tahun terakhir orang susah cari kerja dan lain-lain, karena ada kesalahan kebijakan di situ, moneter dan fiskal,” jelasnya dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (10/9).
Fokus Purbaya: Anggaran Harus Produktif
Purbaya menekankan bahwa anggaran negara harus benar-benar digunakan untuk tujuan produktif. Menurutnya, menahan terlalu banyak dana di BI justru memperlambat sirkulasi uang di masyarakat.
Dengan mendorong dana masuk ke bank-bank BUMN, ia berharap ada percepatan kredit, investasi, dan aktivitas ekonomi yang bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak.
Langkah agresif Purbaya tentu menuai pro dan kontra. Sebagian kalangan menyambut baik keberaniannya menggerakkan dana besar untuk ekonomi riil. Namun, ada juga yang menilai kebijakan itu penuh risiko jika tidak disertai pengawasan ketat.
Meski begitu, Purbaya menegaskan bahwa fokusnya tetap sama: menjaga agar fiskal Indonesia efektif, terukur, dan berdampak langsung pada masyarakat.
Purbaya Yudhi Sadewa ingin menunjukkan bahwa pengelolaan anggaran tidak hanya soal menahan dana demi stabilitas, tetapi juga soal bagaimana dana itu bisa menggerakkan ekonomi. Dengan kebijakan menarik ratusan triliun dari BI, ia menegaskan gaya kepemimpinannya yang lebih berani dibanding pendahulunya.
Kini publik menanti, apakah gaya “menyerang” Purbaya benar-benar bisa mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia.
