BNI Hubungkan UMKM Indonesia dengan Pasar AS hingga Hong Kong

BNI Hubungkan UMKM Indonesia dengan Pasar AS hingga Hong Kong

Bisnis Online Tanpa Modal — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatat outstanding kredit yang berkaitan dengan kegiatan ekspor mencapai sekitar Rp181 triliun hingga semester I 2026.

Direktur Commercial Banking BNI Muhammad Iqbal mengatakan angka tersebut setara dengan sekitar 20 persen dari total kredit yang disalurkan perseroan. Dari jumlah tersebut, pembiayaan untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencapai Rp36 triliun.

”Per semester I kemarin, outstanding credit kami yang terkait ekspor itu lebih kurang Rp181 triliun. Jadi lebih kurang 20 persen dari total kredit yang kami biayai. Dan dari nilai itu, Rp36 triliun adalah kontribusi dari UMKM,” kata Iqbal dalam diskusi Indonesia Economic Forum 2026: The Future of Indonesia’s Exports, Senin (8/9).

Menurut Iqbal, peluang pengembangan ekspor UMKM masih terbuka lebar. Namun, produk yang masuk ke pasar internasional dari kelompok usaha tersebut saat ini masih banyak berasal dari sektor tradisional.

Di sisi lain, aktivitas perdagangan yang tercatat melalui sistem BNI menunjukkan pertumbuhan cukup tinggi. Volume transaksi perdagangan perseroan meningkat hampir 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Saat ini, nilai transaksi ekspor yang tercatat dalam sistem BNI telah mencapai sekitar Rp45 triliun.

BNI Hubungkan UMKM dengan Pasar Internasional

BNI berupaya memperbesar peran UMKM dalam perdagangan internasional dengan membangun ekosistem ekspor. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar program business matching untuk mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon mitra atau pembeli dari luar negeri.

Program tersebut memanfaatkan jaringan kantor BNI yang berada di sejumlah pusat bisnis internasional. Menurut Iqbal, inisiatif tersebut sudah berjalan sejak masa pandemi dan terus menunjukkan perkembangan.

Pembiayaan BNI kepada UMKM melalui ekosistem tersebut juga mengalami peningkatan. Pada tahap awal, nilai pembiayaannya masih berada di bawah Rp5 triliun. Kini, jumlah tersebut telah tumbuh menjadi sekitar Rp36 triliun.

“Kami melihat ada kesempatan buat BNI untuk mendorong, menyambungkan pengusaha lokal UMKM dengan market yang ada di luar,” ujar Iqbal.

Amerika Serikat dan Hong Kong Jadi Pasar Utama

Iqbal menyebut Amerika Serikat dan Hong Kong masih menjadi dua pasar utama bagi UMKM yang terhubung dengan jaringan BNI. Selain kedua negara atau wilayah tersebut, peluang ekspor juga mulai berkembang di sejumlah pusat perdagangan lainnya.

Belanda, London, dan Sydney menjadi beberapa pasar yang dinilai memiliki potensi untuk digarap lebih lanjut oleh pelaku UMKM Indonesia.

Menurut Iqbal, kegiatan business matching yang dilakukan secara rutin dapat membantu UMKM menemukan pasar baru sekaligus memperluas jaringan bisnis.

Ia menilai pendekatan berbasis ekosistem diperlukan agar potensi produk UMKM tidak hanya berhenti di pasar domestik, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari rantai perdagangan internasional.

“Kalau kita bisa bikin business matching yang efektif dan efisien dan reguler, ternyata market dari UMKM ini di luar itu bagus sekali,” pungkasnya.