Kunci Bisnis Sewa Pakaian untuk Dukung Lingkungan

Kunci Bisnis Sewa Pakaian untuk Dukung Lingkungan

Bisnis Online Tanpa Modal — Seperti kita tahu, industri fashion jadi salah satu industri yang paling berpolusi. Dilaporkan, industri fashion menyumbang hingga 10 persen dari emisi gas rumah kaca global di seluruh dunia.

Oleh karena hal itu, salah satu solusi dalam mengurangi dampak lingkungan industri fashion ini yakni dengan menyewa pakaian.

“Banyak orang memiliki pakaian yang tergantung di lemari yang jarang atau tidak pernah digunakan. Menyewa pakaian dapat memperpanjang penggunaan setiap pakaian dan dengan demikian berkontribusi pada konsumsi yang lebih berkelanjutan,” ujar Frida Lind, Profesor di Chalmers University of Technology di Swedia, yang merupakan salah satu peneliti studi.

Walaupun berpotensi mengurangi dampak lingkungan, namun, sejauh ini bisnis penyewaan belum bisa berjalan dengan baik.

Untuk dapat meningkatkan keberhasilan bisnis penyewaan pakaian, studi yang dipimpin oleh para peneliti dari Chalmers University of Technology, Swedia, melakukan beberapa analisis.

Melansir dari Phys, Senin (31/3/2025), para peneliti menganalisis sembilan perusahaan Swedia yang sudah mencoba dan gagal, atau tengah dalam proses menciptakan perusahaan penyewaan pakaian yang berkelanjutan dan diminati.

Dari analisis ini, para peneliti mengidentifikasi terdapat tiga model bisnis utama untuk menyewakan pakaian.

Model keanggotaan

Di mana pelanggan menjadi anggota dan dapat meminjam pakaian untuk jangka waktu tertentu. Model ini mirip dengan perpustakaan.

Selain itu, model ini sering kali mempunyai seorang penggemar sebagai pendirinya, dengan fokus pada konsumsi berkelanjutan.

Model berlangganan

Pada model ini, pelanggan membayar biaya bulanan untuk menyewa beberapa pakaian. Perusahaan rintisan ini ingin meningkatkan skala operasi dan menarik modal ventura.

Model penyewaan individu

Di sini, perusahaan akan menyediakan jenis pakaian tertentu untuk disewakan. Dan seringnya akan dikombinasikan dengan peralatan lain.

Kemudian, peneliti menemukan bahwa perusahaan yang fokus pada segmen pasar tertentu misalnya pakaian aktivitas luar ruangan, terbukti lebih berhasil mempertahankan bisnisnya.

Apalagi bila perusahaan tersebut mempunyai keterkaitan lokal dengan kawasan rekreasi alam.

Lind menyebut, perusahaan-perusahaan itu kelihatannya sudah menemukan segmen pasar yang tepat. Mereka juga menyadari adanya kebutuhan spesifik dari pelanggan yang bersedia membayar setiap kali mereka memerlukan jenis pakaian tertentu.

Selain itu, para peneliti juga menganalisis bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut menghasilkan nilai lewat kerja sama dengan berbagai pihak terkait, dan menemukan bahwa jenis-jenis kolaborasi tertentu memberikan manfaat yang signifikan.

“Perusahaan penyewaan yang menjalin kerja sama yang erat dengan produsen dan pemasok pakaian, terutama desainer yang memiliki komitmen terhadap keberlanjutan, memperoleh keuntungan besar dari kerja sama ini. Mereka dapat dengan cepat mengetahui jenis pakaian mana yang paling diminati. Selain itu, mereka juga mendapatkan informasi penting mengenai kualitas pakaian, misalnya jika ada bagian tertentu yang sering mengalami kerusakan,” terang Lind.

Tantangan Bisnis

Akan tetapi, bisnis ini pun juga mempunyai tantangan sendiri.

“Yang mengejutkan kami adalah bahwa tampaknya sangat sulit bagi mereka untuk membuat bisnis mereka menguntungkan. Beberapa harus mengakhiri investasi mereka karena berbagai alasan,” ungkap Lind.

Walaupun ada basis pelanggan yang bersedia untuk menyewakan pakaian dengan cara ini, mereka mengamati sejumlah tantangan lain yang membuat perusahaan sulit mencapai profitabilitas.

”Menyewakan pakaian melibatkan banyak langkah di mana setiap item pakaian perlu ditangani dan diperiksa sebelum dapat disewakan lagi, yang membutuhkan waktu. Perusahaan juga berjuang dengan biaya tinggi untuk pergudangan, logistik, dan binatu, misalnya,” ucap Lind.

“Khusus untuk model berlangganan, ada juga kesulitan dalam memperoleh modal ventura agar dapat bertahan secara finansial melalui fase pertama pembangunan perusahaan. Semua ini menunjukkan bahwa model bisnis ini membutuhkan waktu untuk memantapkan diri di pasar,” ujarnya.

Kemudian dalam penelitian yang tengah dibahas, para peneliti tidak mengkaji secara spesifik dampak lingkungan dan iklim dari model bisnis penyewaan pakaian.

Tetapi, semua upaya yang mendukung transisi menuju keberlanjutan tetaplah penting. Terutama karena upaya-upaya tersebut membantu mengubah pandangan masyarakat mengenai konsumsi pakaian.

Studi ini pun juga bisa memberikan kontribusi signifikan bagi transisi keberlanjutan dalam industri mode, sebab penelitian ini memperlihatkan potensi model bisnis baru dalam sektor tersebut.

Peneliti juga menginginkan bahwa hasil penelitian bisa memengaruhi para pengambil kebijakan yang memerlukan dasar untuk merancang insentif dan motivasi finansial guna mendorong industri mode yang lebih berkelanjutan.