BBM Non-Subsidi Berpotensi Turun, Airlangga Tunggu Dampak Pembukaan Selat Hormuz

BBM Non-Subsidi Berpotensi Turun, Airlangga Tunggu Dampak Pembukaan Selat Hormuz

Bisnis Online Tanpa Modal — Membaiknya hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai memunculkan harapan baru bagi pasar energi global. Salah satu perkembangan yang paling disorot adalah dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

Perkembangan tersebut ikut menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan mencermati dampak pembukaan kembali Selat Hormuz terhadap pergerakan harga minyak dunia, termasuk kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Menurut Airlangga, pemerintah belum bisa langsung mengambil keputusan terkait harga BBM. Implementasi kesepakatan damai antara AS dan Iran masih perlu dipantau lebih lanjut untuk melihat dampaknya terhadap stabilitas pasokan energi global.

“Ya pertama kan penandatanganan harapannya betul-betul bisa dilaksanakan. Dengan kembali terbukanya Selat Hormuz kan kita baru lihat penyesuaian terhadap harga (BBM) lagi,” kata Airlangga di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (18/6).

Ketika ditanya terkait peluang penurunan harga BBM non-subsidi, Airlangga juga belum memberikan kepastian. Ia menegaskan pemerintah masih menunggu perkembangan situasi dan memastikan distribusi energi global benar-benar kembali normal.

“Ya barangnya sampai di mana kan kita lihat,” ujarnya.

Kesepakatan Damai AS-Iran Jadi Sinyal Positif

Konflik antara AS dan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 sempat memicu kekhawatiran besar di pasar global. Ketegangan kedua negara membuat pasokan minyak dunia terancam terganggu setelah Iran menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan minyak dan gas internasional.

Penutupan jalur tersebut sempat memicu kenaikan harga minyak mentah karena pasar khawatir terhadap potensi gangguan distribusi energi. Kondisi itu juga berdampak pada berbagai negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, yang masih bergantung pada pasokan energi dari luar negeri.

Kini situasi mulai berubah setelah AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) secara digital sebagai langkah awal menuju perdamaian permanen. Berdasarkan kesepakatan tersebut, kedua negara akan merumuskan perjanjian final dalam waktu 60 hari sejak penandatanganan.

Harga BBM Masih Menunggu Perkembangan Pasar Energi

Selama masa transisi, Selat Hormuz dibuka kembali untuk pelayaran internasional dan AS berkomitmen menarik pasukan dari wilayah sekitar Iran. Langkah ini dipandang sebagai sentimen positif yang berpotensi mengurangi ketidakpastian di pasar energi dunia dan menstabilkan harga minyak.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut nota kesepahaman tersebut sebagai dokumen bersejarah yang dapat membuka jalan menuju perdamaian.

“Ini merupakan dokumen bersejarah dan sebuah pesan dari Iran yang kuat: perdamaian akan tercapai di bawah naungan rasa saling menghormati,” tulis Pezeshkian melalui akun X miliknya.

Meski demikian, pemerintah Indonesia masih memilih bersikap hati-hati. Penurunan harga minyak dunia dan dampaknya terhadap harga BBM domestik tidak terjadi secara instan. Pemerintah akan terus memantau perkembangan geopolitik dan pergerakan harga energi global sebelum mengambil langkah penyesuaian lebih lanjut.