BGN Ungkap Alasan Guru Mendapat Menu MBG yang Sama dengan Siswa
Bisnis Online Tanpa Modal — Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan penjelasan mengenai prosedur pencicipan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan dikaitkan dengan kewajiban guru di sekolah.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan pencicipan makanan bukan hanya menjadi tanggung jawab guru. Ada sejumlah pihak lain yang juga melakukan pemeriksaan sebelum makanan diberikan kepada siswa.
“Ada kesan seolah-olah guru disuruh mencicipi. Bisa dibilang benar, tapi bukan yang nyicipi itu hanya guru saja,” ucap Sudaryono di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Rabu (26/8).
Makanan Diperiksa Berlapis Sebelum Dimakan Siswa
Menurut Sudaryono, proses pencicipan sudah dilakukan sejak makanan selesai dimasak di dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG).
Pada tahap tersebut, makanan terlebih dahulu diperiksa dan dicicipi oleh Kepala SPPG, pengawas gizi, serta asisten lapangan. Pemeriksaan tersebut dilakukan sebelum makanan dikirimkan ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, proses pemeriksaan kembali dilakukan. Pihak yang bertugas mencicipi adalah Person in Charge (PIC) sekolah yang telah mendapatkan insentif resmi dari BGN.
“PIC sekolah itu mencicipi, baru kemudian dibagi ompreng makanannya itu ke semua siswa, termasuk guru itu dapat,” kata Sudaryono.
Dengan demikian, guru bukan menjadi satu-satunya pihak yang bertugas memastikan makanan layak dikonsumsi. Guru juga menerima menu MBG yang sama dengan siswa dan menyantapnya bersama di kelas.
Sudaryono menjelaskan keterlibatan guru dalam program tersebut juga memiliki tujuan pendidikan. Guru diharapkan dapat memberikan contoh kepada siswa mengenai kebiasaan mencuci tangan, berdoa sebelum makan, hingga mengantre saat menerima makanan.
Kegiatan makan bersama tersebut sekaligus diharapkan menjadi sarana untuk menanamkan pendidikan karakter kepada siswa.
Guru Ikut Berikan Edukasi soal Gizi
Selain membangun kebiasaan positif, guru juga diharapkan membantu siswa memahami pentingnya makanan bergizi.
Menurut Sudaryono, guru dapat menjelaskan manfaat berbagai kandungan makanan, termasuk protein dan karbohidrat. Siswa juga dapat diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengonsumsi sayuran.
Dalam mekanisme tersebut, guru berperan sebagai salah satu lapisan pengawasan sebelum makanan dikonsumsi siswa. Namun, makanan yang dibagikan sebenarnya telah melewati pemeriksaan sebelumnya di SPPG.
Salah satu prosedur yang dilakukan adalah uji organoleptik, yakni pemeriksaan makanan berdasarkan karakteristik yang dapat diamati menggunakan indra, seperti rasa, warna, tekstur, dan aroma.
“Guru mendapatkan menu itu fungsinya sebagai pendidikan gizi. Kok diminta mencicipi? Karena gurunya ikut makan di kelas itu bareng-bareng dengan siswanya. Jadi, guru ini dapat menu sama seperti siswanya,” ujar Sudaryono.
Dengan penjelasan tersebut, BGN menegaskan bahwa keterlibatan guru dalam konsumsi menu MBG tidak semata-mata dimaksudkan sebagai pemeriksa makanan. Kehadiran guru dalam kegiatan makan bersama juga menjadi bagian dari edukasi gizi dan pembentukan kebiasaan positif bagi siswa.
