Ketidakpastian Global Tekan Nilai Tukar Rupiah

Ketidakpastian Global Tekan Nilai Tukar Rupiah

Bisnis Online Tanpa Modal — Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (11/3) sore. Mata uang Indonesia tersebut ditutup melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat konflik geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data pasar, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.886 per dolar AS pada penutupan perdagangan. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sekitar 23 poin atau 0,14 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, kurs referensi dari Bank Indonesia melalui indikator Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp16.867 per dolar AS.

Pergerakan Mata Uang Asia Bervariasi

Pada hari yang sama, sejumlah mata uang di kawasan Asia menunjukkan pergerakan yang beragam. Beberapa mata uang mengalami pelemahan, sementara lainnya justru mencatat penguatan terhadap dolar AS.

Yen Jepang tercatat melemah sekitar 0,13 persen. Pelemahan juga terjadi pada Baht Thailand yang turun sekitar 0,51 persen.

Di sisi lain, beberapa mata uang Asia berhasil mencatat penguatan. Yuan China naik sekitar 0,12 persen, sementara Peso Filipina menguat cukup signifikan sebesar 0,77 persen.

Penguatan juga terjadi pada Won Korea Selatan yang naik sekitar 0,32 persen terhadap dolar AS.

Selain itu, Dolar Singapura turut mencatat penguatan sekitar 0,20 persen. Sementara Dolar Hong Kong terpantau bergerak stabil tanpa perubahan signifikan hingga penutupan perdagangan.

Mata Uang Negara Maju Menguat

Tidak hanya di kawasan Asia, sejumlah mata uang utama dari negara maju juga berada di zona penguatan terhadap dolar AS.

Euro menguat sekitar 0,23 persen, sedangkan Poundsterling Inggris naik tipis sekitar 0,03 persen.

Penguatan juga terlihat pada Franc Swiss yang naik sekitar 0,18 persen.

Selain itu, Dolar Australia menguat sekitar 0,12 persen, sementara Dolar Kanada juga naik sekitar 0,18 persen terhadap dolar AS.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang membuat sentimen investor menjadi lebih berhati-hati.

Menurutnya, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah turut memicu penguatan dolar AS yang akhirnya menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Dolar AS kembali menguat menyusul eskalasi di Selat Hormuz, di mana terjadi insiden kapal kargo yang terkena proyektil serta operasi militer Amerika Serikat yang menenggelamkan kapal-kapal penyebar ranjau milik Iran,” ujar Lukman.

Situasi geopolitik tersebut membuat investor global cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Kondisi ini kemudian berdampak pada pergerakan nilai tukar berbagai mata uang di pasar internasional.

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan situasi global, terutama terkait konflik di Timur Tengah serta dinamika ekonomi internasional lainnya.