Dampak Konflik Timteng, 35 Penerbangan Internasional di Bandara Ngurah Rai Dibatalkan
Bisnis Online Tanpa Modal — Penutupan jalur udara di kawasan Timur Tengah akibat konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat berdampak langsung pada operasional penerbangan internasional di Bali. Sebanyak 35 jadwal penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai tercatat batal terbang dalam kurun waktu 28 Februari hingga 4 Maret 2026.
Dari total tersebut, 20 penerbangan merupakan jadwal keberangkatan dan 15 lainnya adalah kedatangan. Pembatalan didominasi oleh maskapai yang melayani rute ke Timur Tengah.
Communication and Legal Division Head PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Ngurah Rai, Gede Eka Sandi Asmadi, menyampaikan bahwa meski ada pembatalan, operasional bandara secara keseluruhan tetap berjalan normal.
“Secara umum operasional penerbangan dan pelayanan kebandarudaraan tetap berjalan dengan normal dan optimal,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (4/3).
Ribuan Penumpang Terdampak
Data dari maskapai menunjukkan sebanyak 5.905 calon penumpang terdampak akibat pembatalan tersebut. Mereka merupakan penumpang yang dijadwalkan terbang ke maupun dari sejumlah kota di Timur Tengah seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Doha.
Pihak bandara memastikan seluruh penanganan terhadap penumpang dilakukan sesuai kebijakan masing-masing maskapai, mulai dari penjadwalan ulang (reschedule), pengembalian dana (refund), hingga pengalihan rute bila memungkinkan.
Untuk membantu calon penumpang, pengelola bandara membuka layanan help desk di Lantai 2 Terminal Keberangkatan Internasional. Selain itu, tersedia contact center di nomor 172 yang dapat dihubungi guna memperoleh informasi terkini terkait jadwal penerbangan.
Sejumlah maskapai internasional yang terdampak antara lain:
- Emirates rute Denpasar–Dubai (DXB)
- Etihad Airways rute Denpasar–Abu Dhabi (AUH)
- Qatar Airways rute Denpasar–Doha (DOH)
Pembatalan terjadi pada jadwal keberangkatan maupun kedatangan selama periode 28 Februari hingga 4 Maret 2026. Beberapa penerbangan bahkan tercatat batal selama beberapa hari berturut-turut.
Koordinasi Intensif dan Pemantauan Ruang Udara
Manajemen bandara terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan situasi ruang udara di kawasan terdampak. Koordinasi juga dilakukan bersama AirNav Indonesia untuk memastikan keselamatan penerbangan.
Selain itu, pihak bandara berkoordinasi dengan aparat keamanan guna mengantisipasi potensi gangguan di area bandara akibat meningkatnya jumlah penumpang yang terdampak.
Pengelola mengimbau calon penumpang untuk selalu berkomunikasi langsung dengan maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara, guna menghindari ketidakpastian jadwal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika geopolitik global dapat berdampak luas hingga ke sektor transportasi dan pariwisata nasional, terutama Bali sebagai salah satu pintu gerbang utama penerbangan internasional Indonesia.
