Kategori: Ekonomi

Shein Pulang Kampung ke China demi Target IPO di Hong Kong

Shein Pulang Kampung ke China demi Target IPO di Hong Kong

Bisnis Online Tanpa Modal — Perusahaan mode cepat (fast fashion) asal China, Shein, berencana memindahkan kantor pusatnya kembali ke kampung halaman usai empat tahun berbasis di Singapura. Langkah ini disebut sebagai strategi untuk meyakinkan otoritas setempat agar mendukung rencana penawaran umum perdana (IPO) di Hong Kong.

Shein sendiri berdiri pada 2008 di China dan memperoleh sebagian besar produknya dari negara tersebut. Meskipun begitu, perusahaan lebih memilih fokus pada pasar global, sehingga memindahkan kantor pusatnya ke Singapura pada 2019.

Dari Singapura, Shein mulai mengoperasikan bisnis internasionalnya sejak 2021. Namun setelah empat tahun, perusahaan ini memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya.

Konsultasi dengan Pengacara di China

Menurut laporan Bloomberg yang dikutip CNBC Internasional, Shein sudah melakukan konsultasi hukum mengenai pendirian perusahaan induk di China daratan. Meski demikian, belum ada jaminan bahwa rencana tersebut akan terealisasi.

Shein disebut oleh Financial Times diam-diam telah mengajukan dokumen IPO di Bursa Hong Kong pada bulan lalu. Langkah ini diambil setelah rencana IPO di London gagal terlaksana.

Sebelumnya, Shein mendaftarkan IPO secara rahasia di London lebih dari setahun. Sayangnya, perusahaan kesulitan memperoleh restu dari regulator setempat. Padahal, jika sukses, IPO di London bisa memberikan legitimasi bisnis internasional serta akses pada jaringan investor Barat.

Shein Pernah Gagal IPO di Amerika Serikat

Sebelum mencoba Hong Kong dan London, Shein sempat menargetkan bursa saham Amerika Serikat. Namun, rencana itu batal karena perusahaan menghadapi tuduhan serius terkait kerja paksa dalam rantai pasokan.

Isu ini membuat regulator AS memperketat pengawasan dan menolak langkah Shein untuk melantai di bursa saham Negeri Paman Sam.

Operasional Shein juga menghadapi hambatan dari kebijakan perdagangan internasional. Misalnya, saat Presiden AS Donald Trump mencabut pengecualian tarif impor, Shein kesulitan menjual barang murah dari China ke pasar AS.

Kebijakan serupa diperkirakan bakal meluas karena sejumlah pemerintah di pasar Barat dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah pembatasan baru terhadap barang impor dari China.

Kesimpulan

Shein kini berada di persimpangan penting. Setelah gagal IPO di AS dan tertunda di London, perusahaan mencoba keberuntungan di Hong Kong dengan strategi “pulang kampung” ke China. Meski penuh tantangan, langkah ini bisa menjadi jalan bagi Shein untuk mempertahankan pertumbuhan bisnis globalnya sekaligus mengatasi tekanan dari pasar Barat.